Membaca Dapat Mengolah Rasa, Benarkah?

oleh: Siti Barisah
Membaca tak hanya sekadar kegiatan mengkompilasi rangkaian huruf, kata, maupun kalimat. Membaca itu memroses informasi. Tak ubahnya sebuah gelas yang berisi air yang akan kita minum. Apakah kegiatan itu hanya bersifat alamiah tanpa makna? Tentu tidak. Ada sebuah makna di dalamnya yang dapat kita sebut sebagai upaya menghilangkan hasu. Sama halnya sebuah gelas kosong yang dituangkan air ke dalamnya, membaca merupakan proses menyuplai sebuah informasi untuk diproses menjadi sebuah makna. Pemrosesan tersebut ikut melibatkan bagaimana sikap, perilaku kita ketika membaca. Apakah kalian pernah mengamati seseorang yang sedang asyik membaca? Ekpresi wajah yang awalnya nampak datar tiba-tiba tampak serius dengan memelotot lalu mengguncang-guncang badan terkekeh-kekeh. Apa yang mereka baca kira-kira? Tentu beragam.
Sobat MIWA, kegiatan membaca ternyata dapat memengaruhi perilaku, kebiasaan maupun pola pikir lho. Serangkaian kegiatan melafalkan suku kata, mengkompilasi hingga proses dan menafsirkan tadi juga ikut membentuk rasa pada diri manusia, seperti melatih sikap empati, bersikap obyektif dalam memandang sebuah permasalahan, mampu mengolah emosi manakala mengalami berbagai hal yang dapat memunculkan reaksi tertentu, dan sebagainya. Tentu ini hal yang menarik untuk dikaji lebih dalam, apalagi jika berkaitan dengan ragam kebiasaan manusia yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Kenapa orang harus bersikap jujur, kenapa tidak boleh sombong, bagaimana agar dapat diterima teman, bagaimana menangani sebuah masalah, bagaimana mengungkapkan perasaan tanpa menyakiti, dan sebagainya. Kita dapat belajar itu semua salah satunya lewat membaca sebuah cerita.
Karya sastra seperti cerita fiksi baik fabel, legenda, maupun cerita lainnya punya pengaruh yang cukup penting dalam membentuk sikap baik maupun buruk. Lewat penokohan dalam sebuah cerita, kita diajak untuk mengamati bagaimana sebuah sikap yang berbeda berpengaruh terhadap sikap orang lain. Seperti misalnya cerita fabel tentang kura-kura yang sombong. Dalam kisah tersebut tokoh kura-kura digambarkan berperangai sombong. Ia selalu memamerkan cangkangnya yang sangat kokoh. Apakah sikap kura-kura disukai oleh teman-temannya? Tentu tidak. Banyak diantara teman-temannya merasa kurang nyaman atas sikap si kura-kura. Sekarang, mari kita hadirkan cerita tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali peristiwa demikian yang dapat kita jumpai. Lalu pertanyaannya, bagaimana kita menyikapinya? Ini yang menjadi poin utama. Jika seorang anak berumur enam tahun menjumpai dan mengalami langsung perilaku demikian, tentu dia dengan secara sadar akan bersikap kurang nyaman dan mengungkapkannya.
Sobat MIWA, jika si anak tadi dapat memahami informasi ( pesan moral di dalamnya) yang disampaikan lewat sebuah cerita tentu ini akan berpengaruh terhadap sikap yang dimunculkan. Si anak tadi mengetahui bagaimana reaksi tiap tokoh dalam cerita. Ada yang menyinggungnya langsung, ada yang diam saja, dan ada yang merespon kesombongan kura-kura dengan kata bijak. Nah tentu itu semua bisa menjadi pilihan sikap yang manakah yang tepat yang harus dimunculkan. Jadi, saya rasa membaca apalagi membaca karya sastra itu amat penting karena dapat mengolah rasa sehingga mampu menjadikan manusia pribadi yang berpikir sebelum bersikap dan mengutamakan sikap yang bisa membawa suasana nyaman di berbagai situasi. Wallahu a'lam bisshowab.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Kembali ke Atas











